5 PERKARA PENGHALANG KESHOLEHAN

Oleh : Ustadz M. Syifauddin, M.Pd

(Tuban, 13 Januari 2022 || Ngaji Rutin Malam Jum’at Kliwon || Pondok Pesantren Hidayatus Salaam)

Mengutip daripada dawuhnya Sayidina Ali bin Abi Thalib

لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَّالِحِيْنَ

Seandainya, jika tidak ada 5 perkara ini, tidak menutup kemungkinan bahwa semua orang yang ada di dunia ini Sholeh semuanya. Berbicara mengenai sholeh, semua orang mempunya kesholehan kesholehan masing-masing. Kalau kesholehan santri berarti dengan mengaji, guru dengan mengajar, petani dengan bekerja, pedagang dengan berangkat ke pasar, polisi dengan mengatur lalu lintas. Itu semua mempunyai kesholehan-kesholehan masing-masing. Segala hal yang baik untuk agama, baik untuk masyarakat, itulah yang dinamakan sholeh.

Adapun 5 penghalang kesholehan tadi menurut Sayidina Ali bin Abi Thalib, yakni :

1. As Syukru bil Jahli (Bersyukur dengan kebodohan)

Kita semua sekarang hidup di alam yang serba informasi penuh, ketika kita mengetik apapun di internet pasti internet bisa menjawabnya. Sehingga kita harus sangat bersyukur karena ditakdir oleh Allah bisa sekolah, bisa mengaji, bisa berada dilingkungan pondok. Maka dari itu santri harus percaya diri, harus semangat, karena berhasil tidaknya kita di masa depan itu bergantung diusia 12-22 tahun dan itu masa-masa ketika menjadi santri.

2. Al Hirshu ala Dunya (Kedunyan)

Dunia itu kebutuhan, tapi jangan dijadikan sebagai tujuan. Mau zakat ya butuh modal, mau haji ya butuh modal, mau bangun pesantren ya butuh modal, mau bangun masjid ya butuh modal. Harus dicari, tapi jangan dijadikan tujuan. Ketika kita mencari ilmu, dan tujuannya supaya dapat kerjaan, itu merupakan larangan untuk santri bahkan dalam agama sekalipun.

3. As Syubhu bil Fadhli (Pelit dalam kelebihan)

Sifat dasarnya manusi itu :

اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ * واِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ

Ketika diberi kemiskinan sambat, ketika diberi kenikmatan pelit, itulah manusia.

Mari kita sebagai santri riyadhoh terhadap diri masing-masing dengan terus belajar.

4. Wa riya’u fil amal (Riya’ pamer amal)

Melakukan amal karena manusia itu adalah riya’. Yang ikhlas, ikhlas itu harus terus dipelajari. Ulama-ulama kita dahulu belajar ikhlas itu sampai Ada 16 tahun, ada yang 20 tahun, ada yang 22 tahun baru bisa ikhlas.

5. Wal Ijabu bi Ro’yi (membanggakan diri)

Kita sebagi santri, jadilah santri yang bisa menerima nasihat, jangan sampai ujub dengan argumen kita sendiri.

(Penulis : Kang Mued)
(Gambar : Kang Teguh)

HISSAM CREW
Media Center PP. Hidayatus Salaam

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2017 | kangsiroj