RABU WEKASAN (Penafsiran Surah al-Qamar ayat 19 Perspektif Ulama Sufi)

Rabu terakhir bulan Safar di Jawa disebut dengan istilah rebo wekasan, rebo kasan, rebo pungkasan, atau istilah lain yang merujuk pada maksud yang sama yaitu hari Rabu akhir di bulan Shafar. Terdapat amaliyah yang biasa dilaksanakan pada hari-hari tersebut yang mencakup shalat, dzikir, doa, dan tabarruk dengan asma Allah atau ayat-ayat al-Quran yang dikenal dengan ayat Selamat. Amaliyah tersebut dilakukan sebagai bentuk permintaan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala macam bencana dan cobaan.

Imam Abdul Hamid al-Quds, seorang mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam kitabnya Kanzun Najah was- Surur fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhar, mengatakan “Banyak Awliya Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320.000 penderita (baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar.”

Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat al- Qur’an يَوۡمِ نَحۡسٍ مُّسۡتَمِرٍّۙ yang artinya “hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari tersebut.

Berikut QS. Al Qomar ayat 19

اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيۡحًا صَرۡصَرًا فِىۡ يَوۡمِ نَحۡسٍ مُّسۡتَمِرٍّۙ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menghembuskan angin yang sangat kencang kepada mereka pada hari yang naas secara terus menerus.

Lafadz يَوۡمِ نَحۡسٍ مُّسۡتَمِرٍّۙ menurutmereka adalah hari turunnya bala’ atau hari sial, dan mereka meyakini bahwa hari naas tersebut turun pada hari Rabu terakhir di penghujung bulan Shafar, yang dalam tradisi Jawa di sebut rabu wekasan.

Hafidz ad-Din Abi Barakat Abdillah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi mengatakan dalam kitab tafsirnya, bahwa pada hari itu diturunkan angin yang dingin atau suara yang keras, pada hari naas yang mana penderitaan itu akan terus berlanjut menimpa mereka hingga keluarganya dan pada hari Rabu di akhir bulan.

Menurut Sayyid Mahmud al-Alusy al-Baghdad. Dalam kitab tafsir Ruhul Ma’ani Fi Tafsirin Qur’an al-Adzim wa Sab’il Matsani, dinyatakan bahwa yang dimaksud pada ayat tersebut adalah hari-hari naas yang terkenal pada hari Rabu di penghujung bulan Syawal. Dan beliau juga menyinggung bahwa hari Rabu adalah dimana Nabi Yunus dilahirkan, juga dengan Nabi Yusuf, dan pertolongan kepada Nabi Muhammad pada perang Ahzab juga adalah hari Rabu.

Imam al-Baghawi dalam kitab Tafsirnya, Ma’alim al-Tanzil juga mengulas tentang kejadian nahas yang terus-menerus yang terjadi pada hari Rabu terakhir setiap bulan termasuk bulan Ṣafar ketika menafsirkan QS. al-Qamar: 18-20. Kesialan dan peristiwa naas tersebut luar biasa dahsyatnya dan tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.

Sayyid qutub dalam kitabnya Tafsir fii zilalil Qur’an mengatakan bahwa رِيۡحًا صَرۡصَرًا berarti angin yang sangat dingin dan an-nuhas berarti kesialan, angin itu mencerai beraikan, merenggut, melumat mereka bagaikan pokok pohon kurma yang tercabut dari tanah.

Penafsiran ayat yang seperti demikian kemungkinan hanya ditemukan dalam kitab-kitab Tafsir yang bercorak Sufistik, mengingat bahwa ritual Rabu Wekasan juga bersumber dari ulama-ulama Sufi.

Allahu ‘alam….

——————————————————-

Referensi :

Abdul Hamid Qudsi, Kanzun Najah Was Surur, Surabaya : Mutiara Ilmu, 2016, h. 21

Abu Muhammad al-Ḥusain ibn Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil (Riyadh: Dar Thaibah, 2007), 430.

Hafidz ad-Din Abi Barakat Abdillah bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi, Madarik at-Tanzil wa Haqa’iq at-Ta’wil, (Libanon : Darul Fikri), hal. 1172

Sayyid Mahmud al-Alusy al-Baghdadi, Ruhul Ma’ani Fi Tafsirin Qur’an al-Adzim wa Sab’il Matsani, (Lebanon : Darul Ihya‟it-Turots al-Arobi), 1981, jilid 27 h. 85

Sayyid Quthub, Terjemah Kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur’an, (Jawa Barat: Gema Insani, 2000), Vol. XI, h. 102

Penulis : Kang Mued || Gambar : Kang Teguh

HISSAM CREW
Media Center PP. Hidayatus Salaam

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2017 | kangsiroj